Aset Negara Berbiaya 30 Miliar di Nias “Ditelantarkan”
Medan – Masyarakat Nias mempertanyakan kesungguhan Pemerintah Kabupaten Nias untuk memanfaatkan Aset Negara yang dibangun dengan menelan biaya lebih kurang Rp 30 Miliar berupa Terminal Bus dan Pasar Ya’ahowu di Kota Gunungsitoli Nias.
“Hal ini benar-benar menjadi pertanyaan di kalangan masyarakat mengingat kedua asset berbiaya puluhan miliar rupiah itu sudah terbangun sejak tahun 2008 yang lalu. Namun, hingga kini belum difungsikan sebagaimana peruntukkannya,” demikian ujar Drs Kosmas Harefa MSi, Sekretaris DPD HIMNI Sumatera Utara kepada wartawan, Senin (18/1).
Kosmas Harefa dengan nada kesal mengungkapkan di akhir tahun 2009 telah menyempatkan diri meninjau berbagai fasilitas umum kebanggaan masyarakat Nias. Namun, kenyataannya bangunan-bangunan itu belum difungsikan sebagaimana mestinya.
Padahal keduanya dibangun untuk menunjang bangkitnya perekonomian masyarakat pasca rehabilitasi dan rekonstruksi setelah daerah tersebut dilanda gempa Maret 2005.
Untuk itu, lanjutnya, DPD HIMNI Sumatera Utara akan segera melayangkan surat kepada Gubernur Sumatera Utara, DPRD Sumatera Utara dan para legislator asal Nias baik di pusat maupun di Sumut agar mereka turun tangan melihat kenyataan ini di lapangan.
Serta mengambil langkah-langkah termasuk melakukan “pressure” kepada penguasa di Nias agar Fasilitas umum tersebut dapat segera difungsikan sebagaimana mestinya agar roda perekonomian masyarakat di daerah tersebut dapat terperbaiki lebih cepat.
Harefa juga mengungkapkan bahwa dalam perbincangan dengan masyarakat selama berada di Nias beredar berbagai rumor yang menyatakan bahwa nasib fasilitas umum berbiaya puluhan miliar itu terkatung-katung oleh karena tarik-menarik kepentingan pasca pemekaran wilayah.
“Bilamana hal ini dikaitkan dengan tarik-menarik kepentingan pasca pemekaran, tentu sangat kita sesalkan. Karena jelas-jelas yang rugi adalah masyarakat Nias sendiri” tegas Harefa yang juga Pudir I Akpar Medan. (Analisa, 21 Januari 2010)
Sorake, surga selancar di sudut Pulau Nias
NIAS SELATAN-Pantai Sorake, Nias Selatan, menjadi salah satu tujuan para wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Sumatera Utara. Hamparan pasir pantai seakan menjadi alas berpijak kaum pribumi Kabupaten Sorake. Setiap turis yang menapakkan kakinya di pasir pantai Sorake, pasti terkesima dengan bentangan luas garis pantai dan barisan pohon kelapa pada setiap sisinya.
Panorama yang disajikan di sekitaran wilayah pantai Sorake memunculkan kesan damai. Setiap malam bahkan tidak pernah berhenti suara desiran ombak yang menghantam karang semakin menjadi-jadi. Apalagi ketika air pasang datang, suaranya seakan mampu membuat karang-karang di pinggiran pantai pecah.
Pantai Sorake juga disebut-sebut sebagai tempat selancar terbaik kedua setelah pantai Hawaii, Amerika. Pantai yang terletak di Pulau Nias, tepatnya di Desa Botohilitano, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan ini memang memiliki daya tarik sendiri bagi para wisatawan mancanegara (wisman).
Kabupaten Nias Selatan merupakan salah-satu kabupaten di Sumatera Utara yang terletak di Pulau Nias. Pesona pantai dan ombaknya dikenal di mata dunia, terbukti beberapa kali telah diadakan lomba berselancar tingkat internasional di Pantai Sorake, tetapi lokasi ini belum tertata dengan rapi.
Sepanjang Pantai Sorake berjajar home stay yang siap melayani dan membuai wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai, dengan tarif yang cukup murah sekelas penginapan melati. Jarak menuju ke Pantai Sorake dari Bandara Binaka Gunung Sitoli, Nias, kurang lebih menghabiskan waktu 4 jam dengan menggunakan angkutan umum kota.
Jika Anda ingin mengunjungi Pantai Sorake ini, Anda dapat menggunakan Feri atau Jet Foil dari Sibolga menuju Gunung Sitoli atau jika Anda naik pesawat, dari Polonia Medan menuju Binaka (Nias), Anda juga akan menjumpai banyak sekali turis mancanegara yang juga hendak menuju pantai Sorake ini. Mereka adalah penggemar olahraga selancar yang akan datang ke Pantai.
Tempat surfing dan selancar yang disebut paling baik kedua setelah Hawaii adalah Pantai Sorake dan Lagundri. Ombak di pantai Sorake ini bisa mencapai ketinggian 15 m karena langsung berhadapan dengan Samudera Indonesia. Ombak di Sorake ini konon memang sangat ideal untuk olahraga air berselancar. Ombak di pantai ini punya lima tingkatan. Tidak ada tempat lain di dunia yang punya ombak seperti itu. Jadi, kalau peselancar gagal main slalom di sana, mereka masih bisa melanjutkan atraksi dengan gaya lain di tiap ombak berikutnya.
Namun, kenyataan menunjukkan pantai Sorake hanya ramai saat ada kejuaraan internasional selancar, yang biasanya jatuh pada bulan Juni – Juli, saat ombak sedang besar-besarnya. Di luar itu, kedua pantai tersebut adalah pantai indah yang sepi dan sunyi. (Waspada Online, 8 Agustus 2009)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar